Rabu, 09 Maret 2011

Tri Hita Karana

” Tri Hita Karana”
By: Dewa Putu Artawan, MM
Kata Tri Hita Karana berasal dari bahasa Sanskerta, dimana kata Tri artinya tiga, Hita artinya sejahtra atau bahagia dan Karana artinya sebab atau penyebab. Jadi Tri Hita Karana artinya tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan kebahagiaan bagi umat manusia. Untuk itu ketiha hal tersebut harus dijaga dan dilestarikan agar dapat mencapai hubungan yang harmonis.
Sebagaimana dimuat dalam ajaran Agama Hindu bahwa ” kebahagiaan dan kesejahtraan ” adalah tujuan yang ingin dicapai dalam hidup manusia, baik kebahagiaan atau kesejahtraan pisik atau lahir yang disebut ” Jagadhita ” maupun kebahagiaan rohani dan batiniah yang disebut ”Moksa ”
Untuk bisa mencapai kebahagiaan yang dimaksud, kita sebagai umat manusia perlu mengusahakan hubungan yang harmonis ( saling menguntungkan ) dengan ketiga hal tersebut diatas. Karena melalui hubungan yang harmonis terhadap ketiga hal tersebut diatas, akan tercipta kebahagiaan dalam hidup setiap umat manussia. Oleh sebab itu dapat dikatakan hubungan harmonis dengan ketiga hal tersebut diatas adalah suatu yang harus dijalin dalamhidup setiap umat manusia. Jika tidak, manusia akan semakin jauh dari tujuan yang dicita-citakan atau sebaliknya ia akan menemukan kesengsaraan.
Bagian-bagian Tri Hita Karana
Hubungan manusia dengan Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa )
Hubungan manusia dengan sesama manusia.
Hubungan manusia dengan alam semesta.
Konsep ini ( Tri Hita Karana ) di Bali tercermin dalam tata kehidupan masyarakat Hindu yang meliputi tiga unit yaitu :
Parahyangan, yaitu berupa unit tempat suci ( Pura ) tertentu yangmencerminkan tentang Ketuhanan.
Pawongan, berupa unit dalamorganisasi masyarakat adat sebagai perwujudan unsur antara sesama manusia.
Palemahan, yaitu berupa unit atau wilayah tertentu sebagai perwujudan unsur alam semesta atau lingkungan.
Tiga unit yang disebut Tri Hita Karana yang refleksinya terwujud dalam banyak aspek kehidupan dalam masyarakat Hindu. Ketiga hubungan yang harmonis tersebut diyakini akan membawa kebahagiaan dala hidupini. Sebagai konsep dasar dari ajaran Tri Hita Karana dalam Agama Hindu dapatlah kiranya diperhatikan atau direnungkan sloka-sloka berikut ini :
” Yajnaarthat karmano nyatra loko yam karma bandhanah
Tadrtham karma kauateya mukta sangah samachara ”
Artinya :
Kecuali untuk tujuan bakti dunia ini dibelenggu oleh hukumkerja, karenanya bekerjalah demi bakti tanpa kepentingan pribadi.
( Bhagawadgita. III. 9 )
” Mattahparataram na nyat kimchid astidhananjaya
mayi sarwam idam protam sutre manigana iva ”
Artinya :
Tiada yang lebih tinggi daripada-Ku oh Dananjaya, yang ada disini semua terikat pada-Ku bagaikan rangkaian mutiara pada seutas tali.
( Bhagawadgita. VII.7 )
Dari seloka-sloka tersebut diatas dapatlah diketemukan bahwa segala sesuatu yang ada berasal dari Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ), demikianlah pada akhirnya semua ini akan kembalikepada-Nya. Keberadaan Hyang Widhi Wasa dari sudut Agama adalah mutlah, karena jika direnungkan secara mendalam bahwa segalanya adalah kehendak-Nya. Maka kalau kita menyadari hai ini sewajarnyalah kita berbakti kepada Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.

Hubungan manusia dengan Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ).
Dalam hal ini lebih ditekankan pada upaya umat manusia untuk selalu ingat dan berhubungan dengan Sang pencipta alam semesta ini, sebagai sarana untuk mendekatkan diri bisa dengan doa atau sarana dalam persembahyangan. Yang dapat kita lakukan yaitu di tempat-tempat suci seperti di Pura, Candi, Mandir atau di tempat yang dianggap suci. Seperti kita ketahui tidak semua orang bisa berhubungan langsung dengan Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ), untuk itu perlu sarana sebagai simbul untuk memanifestasikan Tuhan itu sendiri.


Gambar, umat Hindu yang sedang sembahyang.

Hubungan manusia dengan sesama umat manusia ( masyarakat )
Manusia menurut kodratnya sebagai mahluk sosial tidak bisa hidup menyendiri, untuk melangsungkan hidupnya selalu memerlukan orang lain dan hidup berdampingan dalam persaudaraan. Dengan demikian manusia disebut sebagai mahluk sosial. Hubungan manusia dengan umat atau sesama masyarakat dengan masyarakat lainnya akan dapat terwujud secara harmonis, akan terwujud masyarakat sejahtra, aman, dan damai maka akhirnya terwujud terwujud pula Negara yang tentram.
Hubungan yang aman, damai, dan harmonis terhadap sesamamasyarakat sangatlah perlu ditingkatkan dan dibina berdasarkan saling asah, saling asih, dan saling asuh. Saling menghargai, saling mengasihi, saling membimbing, dan saling hormat menghormati. Oleh karena itu untukmencapai kebahagiaan tersebut perlu menjali hubungan yang harmonis pada unsur manusia itu sendiri.


Gambar, kerjasama antar sesama
Manusia tidak akan memiliki arti dalam kesendiriannya, sebab tidak banyak hal yang dapat dibuat denga kesendiriaanya, sedangkan kehidupannya menuntut hal-hal yang sangat komplek dalam kita hidup bermasyarakat dewasa ini. Jadi disamping memiliki keahlian, profesi pada bidang-bidang tertentu maka banyak hal yang terkadang tidak dapat dikerjakannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Disinilah seseorang saling membutuhkan kehadiran orang lain, terutama untuk saling membantu dalam bidang-bidang tertentu dari kehidupannya yang tidak dapat diselesaikannnya sendiri.
Dalam realita hidup misalnya kita mengetahui Adi yang ahli dalam bidang listrik dan elektronik, sedangkan Budi memiliki kemampuan dibidang computer, sedangkan Catur adalah pakar pertanian dan perikanan. Agar Adi,Budi dan Catur dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan sempurna, maka ia harus bekerja sama antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini minta bantuan sama Adi untuk mengerjakan pekerjaan dibidang listrik dan elektronik. Adi mesti siap saling membantu dan begitu juga Budi dan Catur harus siapmembantu mengerjakan hal-halyang berkaitan dengan keahliannya masing-masing, sehingga akan tercapai tujuan dan keharmonisan bersama.
Demikian kenyataannya, Tuhan Yang Maha Esa memang telah menciptakan manusia dengan keahliannya yang berbeda-beda, yang dimaksud demi kesempurnaan kehidupan
manusia sebagaimana dijelaskan dalam Weda Smerti berikut:
” Lokanam tu wiwwrddhyyartham mukhabaahu rupadatah
brahmanan ksatryam waisyam cudram ca nirawartayat ”
Artinya :
Tetapi demi keamanan dan kemakmuran dunia, Tuhan Yang Maha Esa menciptakan Brahmana, Ksatrya, Sudra ( sesuai dengan fungsinya ) yaitu dari mulutnya, dari tangannya, pahanya, dan kakinya.
( Weda Smerti. I. 31 )
Menyadari hal demikian kita mesti selalu menjalin hubungan dengan sesama manusia, hubungan yang dimaksud dalam hal ini adalah hubungan yang baik atau saling menghormati dan saling membantu, simbiosis mutualisme, sebab hanya hubungan yang demikian dapat memberi arti kepada hidup manusia. Jadi untuk dapat memetik hikmah dari kehidupan bersama tersebut seseorang mesti tetap berpegangan kepada ajaran dharma, yang pada intinya mengharapkan agar dalam kehidupan di muka bumi ini seseorang mesti selalu mengukur dari diri sendiri. Setiap akan melangkah, seseorang diharapkan bertanya pada dirinya sendiri, apakah yang dia lakukan tersebut jika ditujukan kepada dirinya sendiri akan menyebabkan atau memberi akibat baik atau buruk. Itulah rahasia sederhana yang diajarkan dalam menempuh hidup bersama untuk memperoleh kesuksesan. Apabila semua itu direalisasikan dalamkehidupan sehari-hari, maka tentunya tidak akan ada kesulitan dalam hidup manusia untuk mewujudkan tujuannya.


Gambar bekerja sama dalam masyarakat

Hubungan umat manusia dengan alam semesta ( lingkungan.)
Dalam kontek ini umat manusia sangat erat sekali hubungannya dengan alam semesta, seperti yang kita ketahui semua kebutuhan hidup yang diperlukan oleh umat manusia bersumber dari alam semesta dan kita sama-sama merupakan ciptan Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ). Dalam ajaran Tatt Twam Asi dijelaskan ” kamu adalah aku ” yang artinya adalah kita semua yang ada dialam semesta ini sama-sama merupakan ciptaan-Nya.
Perlu kita sadari umat manuisa tidak bisa hidup tanpa alam semesta ( lingkungan ), dalam kitab suci Weda dijelaskan segala kebuthan hidup umat manusia hampir semuanya berasal dari alam semesta. Sekali lagi,manusia tidak bisa hidup tanpa alam semesta ( lingkungan ). Seperti yang kita ketahui dari hasil hutan banyak sekali tumbuh-tumbuhan, baik yang bisa kita olah menjadi makanan, obat-obatan, bahan kecantikan, atau untuk bahan bangunan, peralatan mebel dan masih banyaklagi yang lainnya. Dalam kekawin Niti Sastra disebutkan :
” Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi singa itu juga selalu dijaga oleh hutan, jika singa dengan hutan berselisih, mereka akan marah lalu singa akan meninggalkan hutan.Hutannya dirusak, dibakar, dibinasakan orang. Pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi gundul. Singa yang berlarian dan bersembunyi, lari ketengah-tengah ladang, diserbu orang dan akhirnya binasa. ”
Jadi manusia diciptakan, dilahirkan, akan selalu berhubungan dengan alam lingkungan dan selalu bersifat saling memelihara antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam hal ini manusia memerlukan alam lingkungan sebagai tempat hidup dan alampun perlu dipelihara oleh manusia supaya tidak punah.


Gambar alam yang indah

Mengingat sangat pentingnya alam semesta ( lingkungan ) ini marilah kita semua menjaga dan memelihara hutan dan hewan yang adsa di sekitar kita.


Gambar .menyayangi ciptaan Tuhan
Memelihara hewan,menanam pohon kembali salah satu bukti bahwa kita peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal yang demikian sudah menjadi kodrat yang tak dapat dihindari oleh semua umat manisia dimanapun ia berada, sebagaimana disuratkan dalam kitab suci Weda bahwa dunia ini, sengaja diciptakan Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Ynag Maha Esa ) untuk menjadi ” sapi perahan ” ( kamadhuk ), yang dapat mengembangkan hidup manusia. Hal ini juga ditekankan dalam Bhagawadgita sebagai berikut :

” Sahayajnah prajah srishtva puro vacha prajapatih
anena prasavishya dhvam asha vo stv istha kamadhuk ”
Artinya :
Pada masa yang silam Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alamsemesta atas darar yadnya ( cinta kasih dan pengorbanan ) dan bersabda : ” Dengan ini engkau akan berkembang biak, jadikanlah bimi ini sebagai sapi perahan yang memberi kehidupan kepada umat manusia.
( Bhagawadgita. III. 10 )
Dengan kata lain,jagat raya ini adalah sumber artha ( kebutuhan hidup ) manusia. Contoh riil akan peran bumi sebagai sapi perahan ( ibu ) bagi segala kehidupan ( termasuk manusia ) yang ada di bumi, sangat mudah kita tunjukan misalnya: manusia memerlukan makanan bisa didapatkan dari tanaman padi yang tumbuh di bumi ini, kita perlu ikan, daging dan yang lainnya dapat kita beroleh dari di bumi ini. Contoh lain disamping makanan, manusia perlu sandang yang juga diperoleh dari hasil bumi. Dan sepanjang sejarah manusia tidak dapat menciptakan kehidupan atau mahluk hidup yang semuanya adalah merupakan kuasa-Nya. Yang sering kita lihat adalah keberhasilan manusia untuk mengadakan kreasi dari ciptaan Yang Maha Esa, seperti adanya usaha penyilangan, sehingga dariusaha tersebut mendapatkan jenis hewan atau tanaman yang memiliki ragamyang lain dari ragam aslinya.
Dengan kenyataan ini, tentunya tidak tepat jika kita menyatakan sebagai pencipta. Oleh karena itu peran bumitidak dapat diabaikan dalam kehidupan manusia, sebab manusia tidak akan bisa bertahan hidupnya jika sumber artha tersebut musnah. Walaupu demikian harta bukan segala-galanya, artinya ia bukan tujuan akhir ( utama ) bagi hidup manusia. Harta adalah sarana untuk menunjang kehidupan manusia dalam usaha untuk mencapai tujuan yang sejati. Jika diumpamakan lalu lintas laut, maka harta adalah air laut itu sendiri, yang digunakan sebagai perantara bagi berahu, guna untukmencapai pulau harapan. Dalamkaitan ini perlu diingat bahwa dalam penggunaan perantara tersebut, perlulah adanya suatu logika tertentu, sehingga perahu tersebut tidak tenggelam. Begiti juga hasilpenggunaan harta, maka ia harus memperhatikan ajaran-ajaran dharma, sebagaimana ditekankan dalam seloka berikut :

” Kamarthau lipsamanastu dharmamevaditascaret,
nahi dharmadapetyarthah kamo vapi kadacana ”
Artinya :
Pada hekekatnya, jika harta dan kama hendak dituntut, maka seharusnya dharma dilakukan lebih dahulu, tidak tersangsikan lagi pasti akan diperoleh harta dan kama itu nanti, tak akan ada artinya jika harta dan kama diperoleh menyimpang dari dharma.
( Sarasamuccaya. 12 )

” Yatha yatha hi purusah kalyana ramate manah tatha
tathasya siddhyanti sarvartha natrasamsayah ”
Artinya :
Setiap orang baik orang kaya berkecukupan atau orang miskin sekalipun, selama melaksanakan dharma sebagai kesenangannya niscaya tercapai apa yang diiusahakan.
( Sarasamuccaya. 17 )
Melalui penjelasan pada sloka tersebut diatas, tentunya orang tidak akan semena-mena menikmati alam semesta ini. Dan jika kondisi yang demikian dapat diciptakan, tentu tak akan ada praktek-praktek pembalakan liar ( ilegal loging ), pencemaran polusi atau udara, termasuk polusi spiritual. Sebagai pengamalan dari ajaran tersebut dalampraktek kehidupan beragama sehari-hari kita mengenal adanya rerahinan atau upacara tumpek seperti tumpek wariga, tumpek kandang tumpek landep dan juda upacara kekelem, pecaruan dan lain-lain. Semua upacara tersebut pada dasarnya adalah upaya ( spiritual ) pelestarian lingkungan, dan bukan merupakan bentuk-bentuk praktek ”totemisme” ataupun ”dinamisme”, sebagaimana yang sering dinilai oleh pihak-pihak yang tidak mengetahui secara pasti dan mendalam makna ucapan tersebut. Demikian dasar-dasar ajaran yang perlu kita perhatikan dalam rangka hubungan manusia dengan alam semesta dan segala isi ataupun kondisinya. Jika semua ini dapat diamalkan dalam peri kehidupan sehari-hari, pasti tidak akan ada masalah-masalah tentang lingkungan hidup, sebagaimana yang dikhawatirkan dewasa ini.
Contoh pelaksanaan upacara yang berkaitan dengan alam semesta
Hari Raya Galungan.
Hari Raya Galungan merupakan piodalan jagat atau oton bumi, yang dilaksanakan pada hari rabu kliwon wuku dungulan, yang jatuh pada tiap-tiap enam bulan sekali atau tia[ 210 hari sekali. Dari beberapa makna yang terkandung didalamnya, Hari Raya Galungan merupakan peringatan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan atas tradisi dikenal adanya dua versi tentang perayaan Hari Raya Galungan diantaranya adalah :
Tradisi di Bali mengatakan atau menghubungkan sejarah Hari Raya Galungan dengan runtuhnya kerajaan Mayadanawa. Disamping itu ada juga yang menghubungkan dengan raja Jayapangus menerima wahyu dari Bhatari Durga tatkala beliau bersemedi atau bertapa, supaya Hari Raya Galungan dirayakan oelh masyarakat Bali.
Tradisi di India mengaitkan tentang sejarah perayaan Hari Raya Galungan ( Durgapuja, Navaratri, Dussera atau Dasahara ) yang jatuh pada tanggal 1 sampai dengan 10 paro terang bulan Aswasuji atau Asuji ( September-Oktober ) yaitu untuk memperingati kemenangan dharma terhadap adharma, upacara ini untuk menghormati kemenangan Sri Rama melawan Ravana yang disebut juga Dasamukha ( berkepala sepuluh ). Konon Sri Rama berhasil jaya oleh karena anugrah dewi Durga, karena itu sebagai umat Hindu memuja-Nya pada hari tersebut sebagai Durgapuja. Versi lain menyebutkan sebagai kemenangan Sri Kresna melawan raksasa Narakasura. Upacara yang berlangsung 10 hari ini, sembilan haripertama disebut Vijaya Dasami. Hari raya yang disebut juga Dussera ini mirip dengan Galungan dan Kuningan di Indonesia.
Tumpek
Tumpek wariga merupakan upacara untuk tumbuh-tumbuhan, sebagai ungkapan puji syukur terhadap Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ) karena beliau telah menciptakan tumbuh-tumbuhan atau hutan demikelangsungan hidup umat manusia.
Tumpek kandang merupakan upacara untuk semua hewan atau binatang, sebagai ungkapan puji syukur kepada Hyang Widhi Wasa ( Tuhan Yang Maha Esa ) karena beliau telah mencipatak hewan seperti yang telah kita nikmati untuk kebutuhan makanan demi untuk kelangsungan umat manusia. Di satu sisi,umat Hindu dilarang membunuh ( ahimsa ), tapi di sisi lain umat Hindu sering membunuh binatang atau hewan. Dalam Slokantara 59 dijelaskan, himsa ( membunuh ) itu dibolehkan untuk diperseembahkan atau untuk mempertahankan diri. Jadi himsa itu bisa dilakukan dalam beberapa hal berikut :
Dewa Puja yaitu untuk upacara keagamaan atau dipersembahkan untuk kepentingan Yadnya dan lain-lain.
Atithi Puja, yaitu untuk disuguhkan kepada tamu.
Walikrama Puja,yaitu untuk upacara korban pecaruan ( Bhuta Yadnya )
Untuk melindungi diri dalam keadaan perang dan lain-lain.
Perlu diketahui hendaknya sebelum hewan dipotong heendaknya terlebih dahulu didoakan, adapun doanya sebagai berikut;
Om pasu pasàya wimahe sirascadaya dhimahi tano jiwah pracodayat.(Semoga atas perkenan dan berkahMu para pemotong hewan dalam upacara kurban suci ini beserta orang-orang yang telah berdana punia untuk yadnya ini memperoleh kesejahteraan dan kebahagiaan. Tuhan, hamba memotong hewan ini, semoga rohnya menjadi suci.).Dihrapkan agar hewan yang dikorbankan untukdipersembahkan, taraf hudupnya akan lebih meningkat atau lebih baik.
Dengan demikian ajaran Tri Hita Karana sangat tepat bagi umat Hindu sebagai pedoman dalammelestarikan alam semesta. Karena antara yang satu dengan yang lainnya sangat berhubungan erat bahkan bahkan tidak dapat dipisahkan.
Terjadinya hubungan tersebut disebabkan oleh adanya unsur atman dalam diri manusia, dimana unsur tersebut berasal dari Parama Atman ( Tuhan Ynag Maha Esa ). Kondisi inilah yang menyebabkan manusia selalu tertarik untuk berhubungan ( menyembah ) Tuhan Yang Maha Esa. Jika dibandingkan denganmagnet elementernya ( bagian,potonga ). Sesuai dengan hukumnya, maka magnet inti yang memiliki daya tarik yang lebih besar, akan menarik magnet yang memiliki sifat lebih kecil. Hal inilah yang cendrung menyebabkan manusia ingin atau rindu mencari atau berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa ( asal dan akhir tujuan hidupnya ). Dalam kaitan ini Upanisad sering mengumpamakan dengan ssungai; yang dengan penuh kerinduan ingin bertemu dengan laut, asalnya.
Demikianlah manusia senantiasa rindu ingin bertemu dengan Tuhannya, dan selalu ingin merealisasikan kerinduannya dengan berbagai cara, sesuai dengan kemampuannya. Ada yang melalui pemasrahan diri kepada-Nya ( bakti marga ) jalan karma ( karma marga ), jalan ilmu pengetahuan ( jnana marga ) ataukah ajaran Yoga( yoga marga ). Setiap jalan itu tersebut memiliki keistimewaannya masing-masing, dan setiap cara tersebut mulia pada tempatnya masing-masing. Hubungan ini merupakan hubungan yang sengaja dijalin untuk dapat mewujudkan tujuan hidup manusia; yakni ” amor ing acintya ”, luluh dengan asal manusia ( kehidupan ).
Pencapaian tujuan tersebut sangat penting, sebab kondisi yang demikian akan membebaskan manusia dari kesengsaraan hidupnya. Tentunya pencapaian tujuan tersebut diupayakan melalui tahapan tertentu, dari yang bersifat pisik ( material ) hingga hubungan yang sifatnya spiritual ( abstark ). Hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa misalnya, tahap awal diupayakan dengan meluluhkan ” ego ”( ahamkara ),sebab hanya dengandemikian seseorang akan dapat memberi pengakuan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah maha segala-galanya; dilain pihak luluhnya ego menyebabkan seseorang mengakui kemampuannya ( jika dibandingkan dengan kemampuan Tuhan Yang Hama Esa ), terbatas adanya. Pengakuan tersebut mendoorong manusia tunduk dengan segala hukum yang ditentukan oleh-Nya. Dengan adanya pengakuan tersebut maka seseorang dijauhkan dari kesombongan yang cendrung menggiring seseorang untuk berprilaku yang tidak baik, yang akan merugikan manusia itu sendiri. Menyadari adanya akibat tersebut, maka kita perlu senantiasa selalu berhubungan dengan-Nya, sehingga bebrangsur-angsur kita akan memperoleh ” pencerahan ”. Yang memungkinkan kita untukmengenal hal-hal yang baik dan hal-hal yang tidak baik yang mendorong tercapainya tujuan hidup.

Pengamalan Tri Hita Karana dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berusaha dengan segala kemampuannya sendiri. Sebagai manusia yang menyadari dirinya terbatas dan memiliki kekurangan, maka diperlukan kekuatan lain yaitu dengan menghubungkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa yaitu melalui :
Yadnya yang dilakukan setiap hari ( Yadnya sesa ) atau mesegeh.
Melakukan sembahyang setip hari atau berdoa.
Melakukan Yadnya ( Dewa Yadnya )
Melaksanakan Naimitika Karma
Berikut adalah contoh ceritra tentang kekuasaan Tuhan.

Tuhan Maha Tahu
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan matahari, bulan dan bintang, beliau pula yang menciptakan bumi tempat kita berpijak dan mencari makan. Tuhan Yang Maha Esa maha tahu maha mendengar, beliau mendengar semua doa kalau diucapkan dengan pikiran yang sungguh-sungguh.
Di suatu desa hiduplah seorang tukang sepatu yang jujur dan taat kepada ajaran Agama. Setiap hari dari pagi hingga sore dia bekerja menambal sepatu yang sudah tua dan rusak. Dengan cara demikian ia mendapat upah yang cukup untuk keluarganya, dan suatu hari lewatlah seorang kaya raya bernama Sumadi. Samba si tukang sepatu tertegun melihat pakaian yang terbuat dari sutra dan menaiki seekor kuda layaknya seorang raja. ” Wah alangkah bahagianya si Sumadi itu, kekayaan yang berlimpah dan disegani orang. Ia memiliki ribuan hektar tanah pertanian, hidupnya tentu penuh kesenangan. Sedangkan aku, bekerja siang malam memotong kulit dan menambal sepatu yang rusak dan hidupku pas-pasan. Mengapa Tuhan pilih kasih ? demikian dia menyesali dirinya. Ketika Samba memikirkan tentang Tuhan, dia memandang patung Siwa yang ada diatas altar di samping tempatnya bekerja. Samba lalu duduk di hadapan patung itu lalu berdoa : ” Ya Tuhan adalah maha kasih, engkau adalah maha tahu, engkau menyaksikan hamba telah bekerja siang dan malam. Hamba memujamu setiap waktu, tidakkah engkau menaruh belasksihan kepadaku ?. Anugrahilah hamba agar hamba memiliki rumah yang bagus, sawah untuk bertani dan cukup untuk keperluan keluarga hamba ”, emikianlah doanya dengan penuh perasaan. Ada sesuatu yang aneh, pada waktu Samba mengucapkan kata-kata permohonannya itu, dia melihat patung Dewa Siwa seperti hidup dan tersenyum kepadanya. Samba yakin tentu doanya didengar oleh Dewa Siwa, tetapi mengapa Beliau tersenyum ? itulah yang menjadi tanda tanya dalam dirinya.
Tentang Sumadi yang kaya raya itu, dia adalah pemuja Dewa Siwa yang taat juga. Dia sangat baik hati dan suka menolong orang lain. Malam hari setelah pulang dari berkeliling desa, iapun cepat tidur karena lelah. Dalam tidurnya dia mimpi bertemu Dewa Siwa.”Sumadi, buatkanlah rumah yang bagus untuk Samba si tukang sepatu, berikan dia dua hektar tanah pertanian dan satu peti uang emas kepadanya. Samba adalah salah seorang pemujaku yang taat ”, demikian pesan Dewa Siwa dalam mimpinya. Besok paginya setelah Sumadi bangun segera melaksanakan perintah Dewa Siwa yang dia terima melalui mimpinya itu.
Samba hampir tidak percaya dengan keberuntungan itu, diapu merubah kebiasaan hidupnya dari seorang tukang sepatu menjadi petani. Anak dan istrinya mulai bekerjai sawah mencangkul dan menanam. Dia merasa bahwa Tuhan telah mengabulkan permohonannya. Tapi tidak lama kemudian dia merasakan ada masalah baru yang muncul. Mengetahui bahwa Samba telah memiliki runah yang bagus dan besar maka semua sanak familinya berdatangan. Sebagian dari mereka tetap tinggal disana, rumah Samba jadi ramai, dia tidak lagi bisa tenang bekerja. Sanak saudaranya yang mengetahui Samba sudah mengetahu kaya raya ikut menikmatikekayaan itu. Istri Samba selalu sibuk melayani sanak familinya mereka, karena dia percaya dengan pesan orang tuanya bahwa tidak boleh menolak tamu dan tamu harus dilayani sebaik-baiknya. Masalah berikutnya adalah mengenai peti uang emasnya. Dia kubur peti uangnya di pojok ruang tidurnya, tetapi dia selalu merasa tidak aman. Dia takut ada orang lain mengetahui dan mencurinya.Samba tidak berani meninggalkan rumahnya, malam-malam dia tidak bisa nyenyak tidurnya. Mendengar gonggongan anjing dia khawatir, janagan-jangan perampok yang memasukirumahnya. Sawahnya terbengkelai tidak dikerjakan karena Samba tidak berani meninggalkan rumahnya, sedangkan istrinya sibuk melayani tamunya.
Samba sungguh-sungguh merasa tidak tenang dan tidak nyaman, dia mulai sakit-sakitan karena kurang tidur. Hartanya telah merampas ketenangan dan kebahagiaannya. Kembali dia teringat waktu masih menjadi tukang sepatu, walaupun dia miskin, hanya cukupmakan,tetapi hatinya tenang, tidurnya nyenyak dan setiaphari dia bisa menyanyikan kidung pujian kepada Dewa Siwa. Setelah menimbang dalam-dalam akhirnya dia ( Samba ) memutuskan; sambil sembahyang dengan sebuah dupa dia memohon kepada Dewa Siwa ;
” Tuhan yang hamba puja, akhirnya hamba sadar mengapa engkau tersenyum waktu hamba memohon rumah, harta kekayaan dan tanah. Semua benda-benda itu menambah kebahagiaan hamba, benda-benda itru telah merampas kebahagiaan hamba. Ampunilah keserakahan hamba ini,kembalikanlah hamba kepada pekerjaan hamba semula. Biarlah hamba menjadi tukang sepatu, tetapi hamba bisa memujamu denganpenuh kebahagiaan. Hidupkanlah rasa bakti hamba, akan hamba persembahkan hasil kerja ini kepadamu. Engkau maha tahu,apa yang patut dan baik untuk hamba. Bimbinglah hamba memuja jalan yang Engkau kehendaki. Demikian Samba menyampaikan permohonan denganpenuh kesungguhan dan berlinang air mata karena terharu. Kesokan harinya Samba kembali menjadi tukang sepatu, dan semua hartanya dikembalikan lagi kepada Sumadi pemiliknya.

Ketenangan, kesehatan dan kebahagiaan lebih mulia dari segala harta kekayaan

Ibu adalah Perwujudan Tuhan
Lonceng berbunyi dua belas kali, anak-anak saling mendahului keluar dari ruang kelas ingin cepat-cepat pulang dan sampaidi rumah. Dilangit masih mendung, karena habis turun hujan dan jalanan masih becek sekali. Sebuah desa yang sangat terpencil di pegunungan ini hanya ada jalan setapak yang menghubungkan ke Sekolah mereka. Dengan medan yang curam dan licin, karena tanahnya tanah liat berlumpur. Di sebelah Sekolah ada seorang Ibu tua yang sedang berdiri sambil memegang tongkatnya mau pulang kerumahnya, sepertinya sedang kesulitan dan membutuhkan bantuan orang lain. Dengan sisa tenaga yang dia yakini, tubuhnya yang gemetar, badannya yang lemah, basah dan kelihatan sedih dan putus asa. Dia tidak berani beranjak dari tempatnya berdiri, menungguorang yang mau membantunya karena jalan sangat licin. Tak seorang yang lewat menaruh perhatian kepadanya, banyak murid-murid yang melihat tapi dia langsung lari dan ingin cepat-cepat pulang.
Mudita adalah seorang anak dari salah satu siswa tersebut yang kebetulan melihat si Ibu tua itu memandang kepadanya dengan penuh harapan yang membutuhkan bantuan. Mudita langsung mendekati si Ibu Tua sambil berkata ; ” Ibu, Ibu begitu kelihatan sangat lemah, gemetar dan kedinginan apakah boleh saya membantu Ibu ? ” Ibu tua itu matanya bersinar karena gembira. Sudah lama ia menunggu mengharapkan pertolongan, tapi tak seorangpun yang menaruh perhatian. Namun tiba-tiba ada seorang anak yang dengan suara penuh dengan kasih sayang, memangil dirinya dengan sebutan ” Ibu ” dan menawarkan pertolongan, si Ibu tuapun lalu berkata; anakku maukah kamu membantu Ibu menyebrangi jalan ini, karena jalan sangat licin dan rumah Ibu ada di seberang jalan sana. Mudita menghampiri dan memegang tangan si Ibu dan mengalungkan dilehernya sambil berkata; ” mari Ibu kita berjalan pelan-pelan, saya akan menuntun Ibu sampai ke rumah ”. Ketika mereka berjalan berdua si Ibu bercakap-cakap dengan Mudita, denga nada yang penuh kasih. Si Ibu menenyakan nama, rumah dan orang tuanya dan dijawab oleh Mudita dengan sangat ramah. Setelah sampaidi rumah si Ibu lalu Mudita mohon pamit, si Ibu dengan berlinang air mata lalu berkata : ” Semoga Tuhan merestuimu anakku. Ibu akan selalu mendoakan agar kamu bahagia ”. Mudita merasa bahagia karena mendapat kesempatanmenolong orang lain.
Ketika dia menemui kembali teman-temannya, mereka menanyakan kepadanya mengapa dia mau berusaha bersusah-susah menolong si Ibu tua itu, padahal dia tidak kenal dengannya. Mudita menjawab ” saya menolong karena saya yakin dia adalah Ibu dari seseorang. Mengapa kamu menolong Ibu orang lain ? tanya temannya. Tentu saja, bukan saja menghormati tapi menyayangi, bahkan sangat menyayangi. Bila saya menemui wanita yang sebaya dengan Ibu saya, saya selalu ingat sama Ibu saya, kata Mudita.
Mengapa kamu lebih sayang sama Ibumu bukan sama Ayahmu, tanya temannya. Kedua-duanya saya sayangi, tapi saya lebih sayang sama Ibu saya, karena Ibu saya lebih menderita dari Ayah saya. Penderitaan waktu melahirkan, pengorbanan waktu mmerawat saya dari bayi sampai sekarang. Mungkin selama hidup tidaklah pernah saya dapat melunasi hutang budi kepada Ibu. Disamping itu Ayah saya pernah berkata : ” Anakku di dunia ini tidak ada hutang yang lebih berat dari pada kepada Ibu. Barang siapa yang tidak menghormati dan menyayangi Ibunya, dia tidak akan bisa menjadi manusia yang baik ”. Demikian Ayah saya menasehati saya, demikian pula semua teman-temannya sangat terkesan dengan Mudita.

Kutukan orang tua seperti awan dilangit, sinar matahari tidak akan bisa menembus lakau awan menghalangi. Betapa pun taat dan bakti seseorang kepada Tuhan, kalau dia tidak hormat kepada orang tuanya, maka anugrah Tuhan tidakakan bisa sampai kepadanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar